Mindset Konsumen Dalam Membeli Sebuah Produk

Cara Mengetahui Mindset Konsumen Dalam Memilih Sebuah Produk. Kali ini artikel sambungan dari artikel sebelumnya tentang "Faktor Penentu Harga Produk". Setelah saya membahas soal faktor apa saja yang mempengaruhi harga, sekarang saya akan membahas tentang mindset konsumen dalam membeli produk. Masalah dasarnya yaitu apabila ada 2 produk berbeda harga dengan spesifikasi sama, produk A harganya mahal dibanding produk B, berarti lebih baik pilih produk B saja, bukan begitu? ya, bisa juga benar bisa juga salah. Tergantung dari sisi mana anda melihat.

Sebelum itu kita bahas jenis mindset konsumen pada umumnya. Mindset konsumen memang bervariasi, dari yang mindsetnya biasa/normal, sampai yang tidak normal. Bahkan setengah normal tapi kadang keliatan aneh. So mari kita bicarakan apa saja mindset konsumen yang sering kita lihat:

Mindset Mainstream

Yap, paling umum, paling biasa, dan paling banyak jumlah populasinya. Biasanya konsumen jenis ini menginginkan produk itu "sempurna" dalam artian tidak hanya spesifikasi saja yang "sempurna" tapi fitur "tambahan" yang juga ditambahkan kedalam produk ini. Ada 2 kata yang saya kasih tanda kutip, sempurna dan tambahan. Sempurna yang saya maksud disini relatif, bukan secara terukur berdasarkan hasil pengetesan. Jadi dapat dikatakan bahwa konsumen mindset seperti ini mereka tidak tahu atau tidak mau tahu kalau sebenarnya ada produk yang lebih powerful secara performa atau spesifikasi. Cuman, selama ini mereka sudah merasa nyaman dengan produk itu meskipun diluar sana dengan harga dibawahnya namun dapat spesifikasi sama atau bahkan lebih. Kemudian kata berikutnya adalah tambahan maksudnya disini fiturnya bukan dari spesifikasi yang tertera. Ya entah itu gengsi, entah itu awet, entah jaringan service banyak apa saja selain yang ada dispesifikasi.

Mindset Konsumen Dalam Membeli Sebuah Produk

Selain mereka nyaman dengan produknya, mereka juga maklum dengan harga produk yang mereka beli. Memang kadang ada yang maklum secara masuk akal, namun ada yang maklum karena mereka awam. Tapi apapun itu, mereka merasa nyaman-nyaman saja.

Mindset Anti Mainstream.

Kalau bagian ini memang banyak. Ya, banyak macamnya ketimbang banyak populasinya. Bayangin saja, dari yang nyarinya asal murah(tanpa liat spek), atau murah tapi spesifikasi tinggi, sampai yang asal beli beli produk mewah tanpa tahu dimana letak spesialnya produk semuanya bervariasi. Kenapa saya katakan anti mainstream? yap, mereka biasanya lebih expert atau ahli dalam berpikir. Tahu mana yang bagus, mana yang kurang bagus, mana yang memang mahal atau memang murah. Namun ada juga yang keliatannya expert, ehhh ternyata cara berpikirnya kurang luas. Ya, seperti permasalahan pada orang bilang overpriced. Ya intinya cara berpikirnya tidak sama dengan kebanyakan orang lain(mindset mainstream), ya memang tidak ada salahnya demikian, cuman biasanya konsumen tiper ini merasa cara memilih mereka benar dan cara orang lain memilih adalah salah. Tenang saja tidak semuanya berpikir demikian.

Daripada bingung membaca hal di atas, mending langsung ke permasalahan yang sering terjadi di masyarakat saja:

Apakah salah menjadi konsumen dengan mindset mainstream dibanding anti mainstream?

Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, semua tergantung pemikiran konsumen itu sendiri. Karena cara berpikir mereka ditentukan banyak faktor, lingkungan, kebiasaan, pengalaman, dll.

Jika jadi konsumen mainstream tidak salah, kenapa ada yang menilai konsumen mainstream salah?
Nah itu dia pertanyaan terbesarnya, kenapa mereka menyalahkan. Padahal tidak ada peraturan atau undang-undang yang mengatur. Menurutku sih lebih kepada doktrin ketika masih kecil dulu. Ketika kita kecil dulu pasti yang ditekankan adalah salah atau benar. Terus begitu hingga dewasa. Saat dihadapkan pada permasalahan dimasyarakat, akhirnya tidak ada toleransi dari mereka. Sehingga bila pemikirannnya bersebrangan akan dianggap salah, tanpa ada toleransi. Itulah kenapa saya menyebutnya pemikirannya tidak luas.

Jika anda bertemu orang seperti demikian, apa yang anda katakan?

Sebelumnya mungkin saya akan lihat bagaimana cara berpikirnya.Saya lihat dari kata-katanya, dan cara menyampaikan pemikirannya. Kalau dia kata-katanya seperti "mengece" (bahasa Jawa, artinya seperti meremehkan) produk yang lebih inferior atau produk yang peminatnya sedikit, maka saya simpulkan dia punya sifat sombong. Karena mereka merasa produknya lebih inferior, lebih bagus dan baik, lebih murah, atau mungkin secara spesifikasi lebih baik namun didapat dengan harga miring, sehingga mereka merasa berhak atas tindakan mereka (mengece tadi). Sehingga yang mereka inginkan orang yang mereka "ece" (atau remehkan) tadi mengakui pandangannya, mengakui produk yang mereka lebih baik dari produk yang mereka pilih, bahkan kalau perlu berubah cara berpikirnya. Dan hal itu bisa mendatangkan "kepuasan" batin tersendiri (meskipun tidak mendapat keuntungan secara materil/uang).

Namun bila perkataannya seperti kurang pengetahuan, asal nyeplos tanpa data-data yang jelas, ya dapat saya simpulkan mereka hanya ikut-ikutan saja. Dan yang mereka tahu produk mereka lebih baik hanya saja secara detail mereka tidak tahu kenapa produknya dinilai lebih baik. Kalau saya sih lebih sering membiarkan saja mereka yang seperti demikian. Toh, tidak ada untungnya juga meladenin mereka. Cuman kadang saya coba memberi pandangan-pandangan yang simpel namun (harapannya) bisa membuka cara berpikir mereka. Lah emangnya salah? tidak salah cuman salah arah. Apa ya pantas hanya karena punya produk yang superior, lebih baik, atau bahkan lebih murah lalu melakukan bully atau meremehkan cara berpikir orang lain? saya rasa tidak pantas (kecuali mereka yang punya perusahaan tersebut, maka saya memaklumi. Sekali, dua kali saya coba untuk membuka pikiran mereka tidak berhasil, ya sudah saya biarkan saja. Itu artinya mereka berpikir secara sempit dan enggan untuk berubah

Apakah produk yang dipilih konsumen mindset mainstream pasti laku terus?

Justru sebelum produk itu menjadi pilihan banyak orang, produk mereka masih dipilih orang-orang dengan mindset antimainstream. Tinggal bagaimana pabrikan itu mempertahankan posisinya. Yaa secara filosofi apa yang pernah di atas pasti akan ke bawah juga, apa yang pernah di bawah pasti akan ke atas juga. Tinggal usaha saja, apakah pasrah dengan keadaan atau memang berusaha untuk meminimalisir.

Saya benar-benar masih bingung, apa yang harus saya pilih? apakah saya harus menjadi konsumen mainstream atau anti mainstream?

Secara teori tidak ada yang mengatur konsumen dalam memilih sebuah produk. Mari kita berpikir ke arah lain saja lah,daripada soal produk. Lihat ibu dan bapak anda. Kenapa mereka menikah? apa cuman asal suka? apa mereka terpaksa? apa mereka sebelumnya pilih-pilih dahulu? kenapa kok bapak anda memilih ibu anda untuk jadi pasangan? kok tidak artis terkenal dijamannya (misal Elma Theana atau Cici Faramida mungkin?). Kan pasti cantik, pasti bikin hati senang, pasti bikin bahagia. Siapa yang tidak bahagia mendapat istri cantik jelita dan orang lain mengakuinya.

Terus apa hubungannya memilih produk dengan memilih istri?

Pada dasarnya sama saja. Manusia memilih sebuah produk atau istri didasarkan pada:
- Apakah saya suka?
- Apakah saya menginginkannya?
- Apakah saya mampu merawat atau menggunakannya?
- Apakah saya tahu kelebihan dan kelemahannya?
- Apakah saya mampu menjangkaunya?

Bapak anda mungkin ingin mendapatkan istri secantik artis, tapi apakah mampu menjangkaunya? dalam artian bisakah mendapatkan istri secantik artis dengan mudah? jawabannya tergantung, bila artis tersebut mengenal bapak anda bisa saja mendapatkannya. Hanya saja apakah bapakmu tahu kelebihan dan kekurangan artis tersebut? mungkin dirasa kok bapak anda tidak pantas mendapatkan istri seperti artis, sehingga memilih yang masuk akal, makanya memilih ibu anda. Bukan berarti ibu anda buruk, hanya saja memilih yang bagus itu boleh, tapi memilih yang masuk akal lebih penting. Semua orang mungkin ingin memilih yang terbaik, cuman apakah pilihannya masuk akal? belum tentu.

Lah, kalau lebih penting masuk akal harusnya beli produk murah, spesifikasi tinggi donk? kan itu masuk akal?

Saya jelaskan soal "masuk akal" lewat wanita (lagi-lagi soal wanita.hehe). Anda penggemar Raisa, anda ngefans dengan Raisa, anda mengagumi Raisa. Dan juga anda ingin menjadi pacar Raisa.Kebetulan saat ini Raisa sedang jomblo (tapi tidak ngenes). Kalau tiba-tiba anda ketemu Raisa, lalu menyatakan perasaan anda lalu meminta Raisa jadi pacarnya, apakah Raisa mau menerima? bisa saja terjadi, hanya saja kemungkinannya 1%.hehe Gak masuk akal kan? Raisa kenal anda? tidak. Raisa tahu latar belakang anda? tidak, Raisa merasa cocok sama anda? boro-boro cocok, kenal aja gak.hehe. Akhirnya tidak masuk akal kan? Sehingga datanglah si Hamish Daud mendekati Raisa. Kenalan, ngobrol, mengenal Raisa,ngajak dinner, dll. Terus jadian, masuk akal? masuk akal, masuk akal. Karena Raisa kenal, Raisa merasa nyaman, Raisa merasa cocok, Raisa kagum sama si Hamish, ya sudah, mereka jadian. Masuk akal atau tidak itu bukan soal teori, tapi soal bagaimana anda menilai produk tersebut cocok anda gunakan, sesuai selera, dan mampu anda jangkau. Dan setiap manusia berbeda tentang penilaian masuk akal. Kalau anda samakan semua ya salah juga. Apa ya mungkin seluruh orang di Indonesia ini suka dengan Raisa? gak mungkin kan? terus anda harus meyakinkan orang lain bahwa Raisa itu wanita terbaik, terus orang tersebut setuju dan mengikuti keinginan anda, apa bisa? bisa saja terjadi, tapi bisa juga tidak.

Jika dikaitkan dengan produk gimana?

Anda mungkin bisa membeli produk dari yang termurah dan yang termahal, Tapi pilihan anda bisa saja berada di antara keduanya (tidak termahal dan tidak termurah). Anda suka harga murah dan spesifikasi gahar, tapi teman anda belum tentu 1 pemikiran dengan anda. Anda mungkin saja ingin membeli produk yang termahal, tapi bila anda merasa mampu membeli silahkan, tidak ada orang yang menyalahkan pilihan anda. Andai saja anda punya uang 15 juta, maka anda tidak harus membeli produk seharga uang tersebut. Semua pilihan ada ditangan anda, mau beli produk A, B, C atau Z sekalipun selama anda senang dan menikmatinya, it's fine. Maka peganglah kalimat dibawah ini:
"Produk murah, belum tentu laku"
"Produk mahal, belum tentu sepi pembelinya"
"Produk berkualitas belum tentu mahal"
"Produk murah belum tentu kualitasnya buruk"
" Apa yang anda sebut bagus, belum tentu orang lain menilai sama dengan anda"
"Produk yang laku keras biasanya memang baik, tapi bukan yang paling baik"
"Harga produk yang anda bayarkan tidak cuman spesifikasi dan biaya pembuatan saja, tapi ada hal-hal lain yang anda dapatkan"

Kurang lebih itu yang bisa saya tuliskan pada halaman ini, maaf bila terkesan membosankan dan berbelit-belit. Karena kalau kaitannya dengan mindset, maka sang pembaca harus di ajak berputar-putar dulu mindsetnya, barulah dikasih sebuah pemahaman baru. Kalau ujug-ujug langsung disampaikan pemahaman baru saya pastikan menolak.

0 Response to "Mindset Konsumen Dalam Membeli Sebuah Produk"

Posting Komentar